BAGAIMANA RASA JENGKEL BEKERJA?; Catatan Pinggir dari Bandang di Sumatra

BAGAIMANA RASA JENGKEL BEKERJA?; Catatan Pinggir dari Bandang di Sumatra

Freen belakangan ini kita dibuat tidak nyaman dengan hal-hal kecil yang mengusik, misalnya komentar pejabat seenaknya, pencitraan yang tidak pada tempatnya, keramaian yang tidak kita minta. Sesuatu yang sebenarnya tidak langsung terkait dengan kita, tidak juga berpengaruh dengan hidup kita, tapi cukup untuk membuat dahi kita mengerut. Kok bisa ya setega itu,..?!

Begitulah rasa jengkel bekerja—diam-diam, kecil, tapi menggerogoti sedikit demi sedikit ruang batin yang kita jaga. Ia seperti gatal: tidak mematikan, tapi sulit diabaikan. Kita garuk, lega sebentar, tapi kembali datang. Siklus yang sederhana, tapi menyita energi. Melelahkan.

Rasa Jengkel Menurut Nitzche

Nietzsche dalam bukunya On the Genealogy of Morals (1887), pernah bilang kayak gini, kejengkelan adalah semacam bara yang tidak punya saluran untuk menjadi api. Ia bukan kemarahan, bukan dendam, tapi semacam ketidaksanggupan menerima bahwa dunia berjalan tidak sesuai harapan kita.

Kejengkelan adalah bentuk kemarahan yang belum menemukan ekspresi sepenuhnya, simple nya gitu freen.

Mbah Heidegger dalam bukunya Being and Time (1927) juga menyebut seperti ini, kejengkelan adalah gangguan kecil sehari-hari dan berperan penting sebagai “pembuka kesadaran”—momen kecil yang menunjuk bahwa ada yang tidak beres, bahwa dunia tidak seteratur yang kita kira, dan agar tidak membebani pikiran patut kita pahami pola dan gejalanya. 

Berbeda dengan Kemarahan, kejengkelan seringkali dianggap sebagai emosi yang berada di antara kemarahan dan kepekaan. Sebagai perasaan yang tidak benar-benar meledak, tapi juga tidak bisa sepenuhnya diabaikan, kejengkelan memiliki sifat yang membingungkan–kadang terlalu berlebihan untuk hal kecil, tetapi di sisi lain juga tampak kurang kuat untuk menghasilkan hal nyata. Afthonul Afif, Adakah Kebahagian dalam Rencana Genetika Kita (2025, hlm 6).

Mungkin benar: rasa jengkel bukan soal peristiwanya, tapi soal harapan yang tidak bertemu kenyataan. Dan ketika ia menumpuk, ia bisa menjadi semacam kabut yang menutupi cara kita melihat dunia.

Namun justru di titik itulah kejengkelan bisa menjadi guru kecil. Ia mengajari kita bahwa kepekaan adalah tanda kita masih manusia, bahwa batin kita masih merespons dunia—bahkan pada detail terkecilnya, dengan wajar dan apa adanya.


Tapi ada bentuk kejengkelan lain lo freen:

yang tidak lahir dari hal sepele, tidak dari orang yang memotong antrian, tidak dari komentar sarkas di internet. 

Melainkan dari sesuatu yang jauh lebih besar yakni cara negeri ini diperlakukan.

Ketika Jengkel Menjadi Kekecewaan yang Terpendam:

Banjir Bandang di Sumatera dan Ketidakpekaan Penguasa atas nasib rakyatnya. Demikian freen perasaan yang muncul saat Bandang datang di Sumatra. Saat air bah yang mengangkut lumpur, dan kayu gelondongan melahap rumah, rasa aman, dan masa depan orang-orang.

Kita marah, kita sedih, kita gak tega.

Tapi jauh sebelum itu semua,
kita sudah jengkel sebenarnya meski tidak bisa berbuat apa-apa.

Jengkel pada gunung yang dikeruk secara diam-diam.
Jengkel pada hutan yang ditebang demi sawit dan saham segelintir orang.
Jengkel pada proyek-proyek pembangunan yang dibungkus dengan kata “kemajuan”, tapi di lapangan hanya menyisakan turbulensi ekologis yang ditanggung rakyat kecil.

Jengkel pada pejabat yang menebar pesona di tengah penderitaan rakyatnya.

Jengkel pada Ulama yang justru melegitimasi perusakan lingkungan dengan dalil-dalil agama. Dan masih banyak yang lainnya. Raketong freen…

Banjir itu bukan musibah murni. Ia hasil dari pilihan-pilihan.
Pilihan yang dibuat oleh mereka yang tak pernah ikut hanyut.

Dan agar semuanya tampak adil,
kita disuruh menyebutnya “takdir”. Haisss Ngelll !!!


Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

Tidak banyak mungkin freen,
tapi bukan berarti tidak bisa  apa-apa. Misalnya;

  1. Melawan lupa.
    Ingat siapa yang membuka hutan, siapa yang memberi izin, siapa yang diam. Jengkelmu perlu disimpan sebagai arsip moral.
  2. Merawat keberanian kecil.
    Mengkritik, bersuara, bertanya—bahkan di ruang-ruang kecil yang ada di tengah-tengah kita.
  3. Menuntut perubahan, bukan sekadar belas kasihan.
    Karena setiap bencana ekologis bukan hanya soal “penanganan”, tapi soal “pencegahan” yang selama ini dinegosiasi demi kepentingan modal.
  4. Membangun solidaritas.
    Ketika negara lambat, masyarakat sering bergerak lebih cepat. Solidaritas adalah cara rakyat merawat diri ketika sistem membiarkan mereka hanyut.
  5. Membiarkan jengkelmu tumbuh menjadi kepekaan.
    Tidak perlu menjadi marah besar.
    Jadikan ia pengingat yang terus berbunyi, yang membuatmu waspada, yang mengingatkan bahwa ada yang gak bener di tubuh negeri ini—dan bahwa kita tidak boleh membiarkannya menjadi “rahasia” yang sebenarnya orang tahu faktanya.

Karena mungkin, justru dari rasa jengkel kecil itu, kita menemukan keberanian besar untuk menjaga yang tersisa.

Begitulah cara jengkel bekerja:
diam-diam ia menuntun kita melihat retakan dunia—dan memutuskan apakah kita akan membiarkannya runtuh, atau mulai menambalnya bersama-sama, sekuat yang kita bisa. Yokkk freen Candak Tali Gocine… bareng-bareng ya !!!

Back to blog

Leave a comment