Fantasi 19 Juta Lapangan Pekerjaan vs Ekspektasi Orang Tua:Antara Lanyard dan Kedamaian Jiwa
Share
Janji politik biasanya datang dengan angka-angka yang terdengar megah. Seperti belum lama ini, publik sempat digemparkan oleh klaim akan terciptanya 19 juta lapangan pekerjaan baru. Pada kertas dan panggung debat, angka itu terlihat gagah—seakan masa depan bisa diringkas menjadi deretan statistik. Namun bagi sebagian anak muda, terutama generasi Z yang kini berada di usia 20-an, angka itu terdengar seperti mitos urban: serupa rumor bahwa “umur 25 bisa beli rumah cash kalau rajin menabung sejak kecil”, atau nasihat lama tentang kerja apa saja yang penting tetap—yang ironisnya makin sulit dicapai.
Kenyataan di lapangan justru tampak lebih getir. Mencari kerja hari ini ibarat maraton tanpa garis akhir: kita berlari, berlari, dan berlari… tetapi rute seakan diperpanjang oleh hal-hal yang berada di luar kendali pribadi. Mereka yang punya koneksi melesat duluan. Yang lainnya masih berkutat dengan revisi CV, refresh job portal, pesan “kami akan menghubungi Anda secepatnya” yang tak pernah benar-benar datang, serta ekspektasi orang tua yang menggantung di kepala seperti deadline tak terlihat.
Bagi banyak orang tua, pekerjaan ideal masih dibayangkan sebagai ruang kantor ber-AC, meja bersih, pakaian rapi, dan lanyard yang menggantung di leher. Simbol keanggotaan dalam dunia yang “aman”, “pasti”, dan “mapan”. Ada pula yang memimpikan pin KORPRI di dada anaknya, seolah itu satu-satunya jalan keselamatan sosial. Padahal kenyataan generasi hari ini sangat beragam: ada yang berangkat pagi-pagi dengan KRL menuju lembur; ada yang memanggul cangkul ke sawah demi panen yang tak menentu; ada pula yang bangun subuh untuk memulai dagangan online dari rumah, menegosiasi pesanan sejak layar ponsel masih gelap.
Di balik semuanya, setiap orang sedang memperjuangkan bentuk kehidupannya sendiri.
Dalam situasi ekonomi yang rapuh, generasi Z seperti berdiri di persimpangan yang membelah dua tekanan: satu, realitas ekonomi yang sulit ditebak; dua, harapan orang tua yang masih bertahan pada bayangan masa lalu—sebuah zaman ketika satu pekerjaan bisa menghidupi satu keluarga tanpa kecemasan berlebih. Sementara hari ini, pekerjaan tetap sekalipun tidak selalu menjamin ketenangan. Banyak orang bekerja keras, namun hidup selalu berada satu langkah di depan cicilan, kebutuhan rumah, dan harga yang merambat naik.
Dari sini muncul pertanyaan kecil yang menyelinap dalam hati banyak anak muda: lebih mulia mana—bekerja keras di kantor tetapi nyaris tak punya waktu untuk diri sendiri, atau menganggur tetapi punya ruang luas untuk ibadah, refleksi, dan istirahat?
Pertanyaan ini bukan tentang membandingkan siapa di atas siapa, melainkan tentang kegelisahan generasi yang merasa hidupnya terus dinilai dari pencapaian ekonomi. Kita jarang diberi ruang untuk bertanya: di mana letak manfaat yang bisa kita bagi? Apa bentuk kebermaknaan yang paling jujur bagi diri sendiri?
Sebab tidak semua yang tampak mapan itu tenang.
Dan tidak semua yang terlihat sederhana itu gagal.
Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad ﷺ pernah ditanya tentang amal yang paling utama. Beliau menjawab:
“Pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri,
dan setiap jual-beli yang baik.”
(HR. Al Hakim)
Hadis ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya membongkar banyak mitos tentang pekerjaan. Bahwa kemuliaan tidak terletak pada jabatan, lanyard, atau gedung megah tempat kita bekerja. Melainkan pada ikhtiar halal—pada usaha manusia untuk menyambung hidup tanpa merampas hak orang lain.
Berkeringat sendiri adalah ibadah.
Bekerja dengan tangan sendiri adalah kemuliaan.
Baik itu di sawah, kantor, bengkel, warung kopi, dapur katering, toko online, hingga dunia freelance kreatif. Tidak ada pekerjaan yang terlalu remeh jika dilakukan dengan kejujuran. Tidak ada profesi yang terlalu kecil jika memberi manfaat.
Namun kita hidup di zaman ketika “merasa kalah” begitu mudah.
Kalah dari teman seangkatan yang sudah mendapat pekerjaan di startup bergengsi.
Kalah dari sepupu yang sudah bisa mencicil rumah.
Kalah dari orang-orang di media sosial yang hidupnya tampak “tenang”, “rapi”, “stabil”.
Padahal kita lupa satu hal: nilai manusia tidak pernah diukur dari gaji dua digit atau bangunan kantor tempat ia bekerja. Kadang kemuliaan justru hadir dalam hal yang sederhana—menjaga mushola kampung tetap hidup, mengajarkan ngaji anak-anak tetangga, membantu tetua kampung ketika diperlukan, atau sekadar menjadi anak muda yang tidak merugikan orang lain.
Ketenangan batin tidak selalu berasal dari pekerjaan yang “prestisius”.
Kadang ia datang dari hidup yang jujur, secukupnya, sebaik yang bisa dilakukan.
Pada akhirnya, jalan hidup setiap orang tidak pernah sama. Ada yang cepat menemukan tempatnya, ada yang berjalan pelan dan limbung. Ada yang kariernya melesat, ada yang tumbuh dalam diam. Namun apa pun jalannya, yang kita cari sebenarnya sama: kedamaian jiwa—as-sakīnah—yakni keseimbangan antara materi dan batin, seberapapun yang bisa kita usahakan.
Mungkin janji “19 juta lapangan pekerjaan” akan terus menjadi bahan debat di ruang-ruang politik. Tapi bagi banyak dari kita, yang penting bukan angka itu, melainkan ruang untuk mencari nafkah yang halal tanpa kehilangan kewarasan dan martabat.
Perjalanan ini memang panjang. Tidak selalu mudah. Tetapi selama kita melangkah di jalan tholabul halal, setiap langkah—kecil atau besar—tetap bernilai.
Semoga Allah menuntun kita di jalan itu: jalan kejujuran, ketekunan, dan keberkahan yang tumbuh perlahan, tetapi nyata.